SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TANAMAN HIAS ADENIUM ARABICUM

Selasa, 27 September 2016

Aneka-Peliharaanhias----Sejarah Adenium Arabicum-Tanaman hias adenium atau ngetop dengan sebutan kamboja jepang sudah tidak asing lagi di masyarakat Indonesia, terutama bagi penggemar dan hobbis tanaman hias. Beberapa tahun belakangan ini, adenium banyak disebut dan keindahannya menjadi buah bibir, tanaman hias adenium meroket sejak ditemukannya hibrida-hibrida dan varian baru dengan bentuk dan warna bunga yang beraneka ragam. Salah satu jenis adenium yang terkenal adalah adenium arabicum.

Adenium arabicum


A. Daya Tarik Adenium arabicum

         Adenium merupakan salah satu tanaman hias yang paling populer di Indonesia bahkan di dunia karena keindahannya. Jenis adenium yang sudah lama dikenal hobiis dan paling mudah ditemui di Indonesia adalah Adenium obesum yang memiliki kelebihan pada warna bunganya yang beraneka ragam. Dengan semakin seringnya diadakan pameran tanaman hias dan kontes adenium, maka permintaan dan peminat tanaman ini semakin bertambah. Konsumen yang semakin memahami adenium mulai melirik jenis-jenis adenium yang lain.

         Arabicum termasuk salah satu species adenium yang memiliki daya tarik lebih pada akar, bonggol (sering disebut caudex), batang, cabang, ranting, daun, dan bentuknya yang cocok untuk bonsai. Kehadiran bunga pada arabicum dapat dikatakan hanya sebagai bonus, karena meski tanpa bunga, arabicum tampak gagah dan maskulin.

 Di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, permintaan arabicum semakin meningkat sejak tahun 2005, sehingga banyak bermunculan penjual dan importir tanaman dan bijinya. Harga tanaman dan biji arabicum yang jauh lebih mahal daripada obesum tidak membuat permintaan turun, bahkan permintaan semakin meningkat setelah arabicum terbukti laku di pasaran. Hampir semua pasokan arabicum didapat dengan mengimpor dari Thailand, Taiwan, dan India. Varian-varian baru arabicum yang dihasilkan oleh Thailand semakin menyemarakkan pasar sehingga konsumen dapat memilih arabicum yang memiliki bentuk dan karakteristik yang sesuai dengan seleranya. Saat ini tren arabicum mulai berkembang di pulau Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua.


B. Asal-usul dan Penyebaran Adenium arabicum

            Habitat asli Adenium arabicum adalah di sepanjang perbatasan bagian selatan dan barat semenanjung Arab. Arabicum di habitat aslinya tumbuh melebar seperti semak di daerah yang lebih kering dan berbentuk seperti pohon di daerah yang lebih basah. Berdasarkan perbedaan bentuk tersebut, arabicum dibagi menjadi dua tipe yaitu tipe Saudi dan Yaman. Arabicum tipe Saudi tumbuh seperti pohon dengan tinggi mencapai lebih dari 4 meter, namun di daerah pegunungan batangnya cenderung lebih membesar. Arabicum tipe Yaman dapat ditemukan di bagian selatan Yaman dengan ciri caudex yang lebar dan pendek, serta daunnya sangat besar, panjangnya mencapai 20 cm dan lebarnya 12 cm. Di Yaman diameter arabicum yang tumbuh di alam secara liar bisa mencapai lebih dari 1 meter.

Adenium Arabicum Giant
Adenium Arabicum Giant

      Arabicum di daerah aslinya mengalami masa dormansi yang ditandai dengan rontoknya daun saat musim dingin. Arabicum mulai berbunga pada akhir masa dormansinya yaitu pada akhir musim dingin atau saat memasuki awal musim panas. Ukuran dan warna bunga arabicum bervariasi, tergantung pada lokasinya. Bunga arabicum tipe Saudi berdiameter 4 cm sedangkan bunga arabicum tipe Yaman mencapai diameter 8,5 cm serta warna kerongkongan bunganya lebih merah.

            Arabicum masuk ke Thailand pada tahun 1980an, yaitu saat para pekerja Thailand yang bekerja di Saudi Arabia, membawa kembali biji dan potongan batang Adenium arabicum dari sana. Biji dan potongan batang yang dibawa ke Thailand itu berasal dari wilayah yang berbeda-beda sehingga memiliki karakteristik yang beragam. Pada waktu itu banyak pekerja Thailand yang membawanya kembali ke kotanya masing-masing untuk dikembangbiakkan. Sehingga sekarang banyak varian arabicum yang namanya merupakan nama daerah di Thailand seperti Kong, Singburi dan Lopburi.

            Pada tahun 1990an tren arabicum mengalami masa keemasan di Thailand sehingga banyak bermunculan nurseri-nurseri yang khusus mengembangkan arabicum. Pada tahun 2004 beberapa produsen arabicum di Thailand mulai mempromosikan produknya melalui internet sehingga arabicum mulai dikenal di seluruh dunia. Seiring dengan semakin bertambahnya permintaan biji dan tanaman dari Indonesia dan negara lain, maka supplier Thailand harus mencari pasokan arabicum dari seluruh daerah di Thailand, namun hal ini menyebabkan terjadinya percampuran berbagai varian arabicum yang diekspor.

            Permintaan yang sangat tinggi tersebut juga menyebabkan tren arabicum bangkit kembali di Thailand. Sehingga dibentuklah suatu asosiasi arabicum di Thailand yang kemudian mengklasifikasikan arabicum menjadi beberapa varian menurut perbedaan morfologisnya. Sekarang berbagai varian tersebut dapat ditemui di pasar Indonesia. Arabicum pada awalnya diimpor oleh beberapa hobiis dan pedagang tanaman hias dari berbagai kota besar di Indonesia. Dengan adanya sistem pendistribusian yang bagus, sekarang biji dan tanaman arabicum dapat ditemukan di berbagai kota dengan harga yang relatif stabil dan sama.


C. Karakteristik Adenium Arabicum

       Adenium termasuk tanaman sukulen yaitu tanaman yang dapat menyimpan air di seluruh bagian tubuhnya, dari akar, batang, daun, bunga sampai buahnya. Arabicum tumbuh optimal di lingkungan yang kering, panas dan banyak sinar matahari sehnigga sangat cocok untuk dikembangbiakkan di daerah tropis seperti Indonesia. Arabicum merupakan salah satu species adenium yang memiliki perbedaan yang cukup mencolok apabila dibandingkan dengan species lain, khususnya obesum. Meskipun sekarang telah bermunculan Adenium obesum yang memiliki banyak cabang (multi branches) namun perbedaannya dengan arabicum tetap terlihat mencolok. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada bunga, daun, caudex, dan akarnya.

       
         Bunga arabicum berwarna merah muda, ada yang warnanya lebih pucat dan ada yang lebih kemerahan, tergantung jenisnya. Bunga yang terbentuk biasanya berkelompok pada setiap ujung cabang. Diameter bunga arabicum umumnya hanya 4 cm, jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan bunga obesum yang ukurannya mencapai dua kali lipatnya. Bunga pada arabicum dewasa biasanya mulai bermunculan pada akhir musim hujan atau sepanjang musim kemarau. Beberapa varian arabicum sangat rajin berbunga seperti varian rachinee pan dork (RCN). Getah arabicum rasanya pahit dan beracun seperti halnya jenis adenium yang lain. Biji arabicum relatif besar, berwarna putih krem dan punya bulu pada kedua ujungnya sehingga dapat terbang dan menyebar bila tertiup angin. Biji arabicum berukuran jauh lebih besar bila dibandingkan dengan biji obesum.

   Daun arabicum pada umumnya berukuran lebih besar dan lebih tebal dibandingkan obesum. Hampir semua varian arabicum memiliki daun yang berbulu dan tebal, namun varian RCN dan Thai socotranum memiliki daun yang licin dan mengkilat. Daun arabicum biasanya rontok saat menjelang musim berbunga.

     Pertumbuhan arabicum umumnya lebih melebar daripada memanjang, sehingga pemotongan pada batangnya jarang dilakukan. Arabicum memiliki bentuk caudex yang khas tanaman gurun dan sukulen yaitu ukurannya membesar dengan rata dari pangkal sampai ujung batangnya. Jumlah cabang arabicum banyak, kokoh dan teratur sehingga hanya tinggal melakukan perawatan untuk menjaga kesimetrisannya. Cabang obesum multi branches juga banyak namun cenderung tidak teratur dan mudah memanjang atau melengkung sehingga perlu selalu dilakukan pemangkasan. Bentuk caudex, batang dan percabangan inilah yang menjadikan penampilan arabicum menjadi yang terbaik bila dibandingkan dengan adenium jenis lainnya.

      Akar arabicum cepat membesar bila ditanam dalam media yang cocok. Arabicum yang ditanam sebagai bonsai biasanya dilakukan teknik program akar untuk mendapatkan bentuk akar yang indah sebagai pondasi yang selaras dengan bentuk tajuknya. Teknik pemrograman akar ini dilakukan sejak arabicum berumur 5 vulan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Namun pemrograman akar ini memiliki resiko kematian karena busuk, sehingga sangat perlu penguasaan terhadap tekniknya.

      Merawat arabicum termasuk mudah bila dibandingkan dengan tanaman hias jenis lainnya karena yang selalu dibutuhkan hanyalah panas dan sinar matahari. Arabicum dewasa menyimpan cadangan makanan di caudex dan akarnya sehingga tahan bila tidak disiram bahkan dalam jangka waktu yang lama dengan menggugurkan daunnya. Karenanya, pemiliknya tidak perlu mengkawatirkan arabicumnya bila akan bepergian dalam jangka waktu yang relatif lama.

Demikian tentang Sejarah Tanaman hias Adenium Arabicum, semoga bermanfaat untuk anda pencinta tanaman hias adenium. Terimakasih sudah berkunjung kembali di blog Aneka-peliharaanhias ini, semoga sukses selalu.

Baca juga : Sejarah dan perkembangan Adenium di Indonesia !!

Sumber Gambar: Adenium Arabicum-Google



19.22

0 komentar:

Posting Komentar